Mata Hati adalah Jalan Menuju sejati, dengan hati kita dituntun untuk memanusiakan diri kita, banyak orang punya mata tapi tidak mampu melihat, membedakan mana baik mana buruk, mana salah mana benar, namun dengan hati kita akan dituntun menapaki jalan-jalan yang baik dan benar....
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Oktober 2010

Kabupaten Bekasi dalam Perspektif Mithology dan filosofi Masyarakat Jawa

Masyarakat jawa adalah masyarakat yang sangat kental dengan budaya mytos dan filosofis, sejak jaman kerajaan-kerajaan hindu budha sampai masuknya Islam ditanah jawa, bahkan sampai sekarang budaya itu masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di tanah jawa, meskipun sekarang ini sudah banyak masyarakat di jawa yang sudah meninggalkan budaya ini karena mungkin lebih menganggap bahwa mytos dan dan filosofis itu ketinggalan jaman dan terbelakang dan lebih menganggap bahwa logika lebih bisa diandalkan.

Mythologi dan filosofi tidak hanya dijadikan landasan untuk membangun sebuah tatanan hidup oleh masyarakat jawa saja, akan tetapi oleh seluruh masyarakat atau komunitas-komunitas masyarakat indonesia lainnya bahkan hampir diseluruh belahan dunia, mereka meyakini bahwa kehidupan mesti diatur oleh falsafah-falsafah yang bisa dijadikan pegangan pegangan agar kelestarian alam, budaya, seni dan kerukunan tetap terjaga, karena apabila semua orang hidup tanpa falsafah dikhawatirkan akan mengalami perubahan yang tidak terkendali bahkan cenderung menjadi kacau, banyak bangsa kehilangan ati dirinya, banyak bangsa melupakan sejarahnya, dan banyak orang hidup sesuka hatinya. Keberadaan mythos dan falsafah kerap dijadikan pedoman dalam membangun sebuah tatanan dan komunitas, apakah itu lingkungan, perkampungan sampai sebuah pemerintahan, karena mythologi dan filosofi diharapkan dapat menjadi benteng moral dan sosial dalam sebuah tatanan.

Kabupaten Bekasi adalah sebuah daerah yang juga dulunya dibangun dengan mythologi dan filosofi baik oleh raja-raja pada pemerintahan Taruma negara, atau oleh raja-raja islam seperti sultan agung mataram sampai kepada hadirnya pejuang dan pajlawan nasional dari Bekasi yang juga seorang tokoh Ulama, politisi, ahli strategi perang dan militer yaitu KH. Nur Ali, perkembangan dan kehidupan masyarakat Bekasi semasa hidup beliau cenderung damai dan tertata, kehidupan masyarakat dengan pemerintahnya terlihat harmonis, hubungan kemasyarakatan yang tertuang dalam bingkai culture(budaya) pun terlihat nyaman.

Seiring dengan perkembangan zaman kabuapten Bekasi mulai mengambil era baru; baik dalam pembangunan infra struktur, budaya dan lain-lain, pergeseran budaya (paradigm shift) semakin terlihat, masuknya budaya-budaya yang dibawa oleh para kapitalis yang disebut investor dengan mythos-mythos dan falsafah-falsafah mereka telah banyak merubah tatanan hidup, masyarakat, pola hubungan, dan gaya pemerintahan atau kepemimpinan serta orientasi pembangunannnya.

Kabupaten Bekasi sebagai daerah yang sangat kaya akan potensi; budaya, ekonomi, seni dan keberagaman hidup lainnya saat kondisinya sangat jauh tertinggal dari daerah-daerah lain, apalagi bila dibandingkan dengan saudara mudanya yaitu Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi dengan potensi kekayaan Industri dan sumber daya alam malah menjadi daerah yang memiliki penduduk miskin begitu banyak dan potensi kerawanan sosial yang begitu besar.

Korelasi dengan Mythos dan Filosofi

Dalam kepercayaan masyarakat jawa, bahwa pusat pemerintahan haruslah berdekatan dengan air, karena air adalah sebagai falsafah kehidupan, apakah itu laut, situ, kali ataupun aliran sungai sehingga diyakini apabila pusat pemerintahan erdekatan dengan sumber air akan dapat menjadi sugesti bagi pemerintahnya maupun masyarakatnya untuk hidup lebih; damai, sejahtera dan tercukupi, dan itulah salah satu alasan kenapa taruma negara memilih pemerintahan berada dekat dengan laut utara dan membangun kali bekasi sepanjang 47 km.

Kantor pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi pilihan investor yang saat ini ditempati adalah berada pada daerah yang menurut konsultan dari IPB (institut pertanian bogor) adalah daerah yang kadar aernya nol persen (0%) karena derah yang dibawahnya hanya mengandung cadas dan batu karang.
Hal yang kemudian terjadi adalah menjadi sebuah suggesti bagi para pemimpin diBekasi menjadi tidak produktif, masyarakatnya cenderung pemalas dan premanisme tumbuh bak cendawan dimusim hujan, bahkan para pemimpinnya justru malah membangun sebuah komunitas "preman" itu menjadi bagian dari steak holder yang membantu jalannya pemerintahan.

Tersugesti oleh sebuah falsafah yang menurut sebagian orang adalah kuno dan tidak logis, kabupaten Bekasi malah terjebak dalam kekerinagn dan kepanasan secara batin dan pola hubungan, gesekan-gesekan politik menjadi pemandangan sehari-hari, korupsi meraja lela, dan kemiskinan terus meningkat, kehausan secara mythos membuat masyarakat menjadi tidak mensyukuri apa yang mereka miliki, banyak pengusaha rebutan kupon BLT, raskin dll, kekayaan potensi industri dan sumber daya alam tidak menjadikan potensi dan sumber kesejahteraan masyarakat, justru malah menjadi potensi bancakan para pemimpin dan pejabatnya.

Program dan rencana pemerintah kemudian hanya menjadi jargon, karena para pelaku kebijakan tidak dengan ikhlas menjalankan amanah, melainkan selalu emnjadikan program dan rencana itu menjadi potensi yang dapat dimaling, karena selalu merasa haus akan harta dan selalu merasa tidak cukup, sehingga kehidupan masyarakatnya emnjadi bulan-bulanan susah dan miskin.

Sungguh ironi sebenarnya, namun kekuatan akal manusia memiliki titik batas yang sangat tertentu, dan dibalik semua rencana dan kekuatan akal dan pikiran manusia ada kekuatan lain yang mengendalikan hidup dan tatanan kehidupan. keyakinan selalu menjadi suggesti dan kearifan terhadap para leluhur pendiri menjadi sebuah tolok ukur sejauh mana kehebatan sebuah bangsa.


selengkapnya...

Selasa, 06 April 2010

Falsafah Tut Wuri Handayani Masuk Konfrensi Pemuda Arab

Eddi Santosa - detikNews

Kairo - Falsafah Jawa tersebut diperkenalkan dalam Konferensi Pemuda Arab, diikuti 400 cendekiawan dan pemuda negara-negara Arab, yang berlangsung di Hall Universitas Nahdah Beni Suef, 115 km dari Kairo (13/3/2010).


Dalam konferensi hasil kerjasama Arab Council for Moral Education dan Nahdah University Beni Suef (NUB), Mesir, delegasi pemuda RI sebagai partisipan kehormatan melalui Mus’ab Muqaddas mempresentasikan filsafat dan moral pendidikan Jawa yang terdiri dari tiga elemen.



Ing Ngarso sung Tulodho, seorang pemimpin yang berada di depan harus selalu memberi teladan, untuk dapat diamalkan terutama oleh dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya.

Ing Madya Mangun Karsa, sebagai pemuda yang mengemban tugas berada di tengah tidak hanya diharapkan selalu mencontoh sang pemimpin tapi diharapkan juga mampu membangun lingkungan kondusif.

"Kemudian Tut Wuri Handayani, pemuda selalu mengikuti contoh teladan dengan suasana kondusif yang telah ada,” papar mahasiswa Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al-Azhar Kairo, itu bersemangat, yang mendapat sambutan meriah dari para peserta konferensi.

Pemerhati sosial di Kairo, Syamsu Alam Darwis, kepada detikcom siang ini mengatakan bahwa pemaparan filsafat Tut Wuri Handayani di kalangan cendekiawan dan pemuda Arab dapat dijadikan media pertukaran pemahaman budaya, terutama antara Indonesia-Mesir.

"Dengan upaya seperti ini, kekayaaan khazanah budaya Indonesia dapat dikenal dengan lebih baik," tutur Syamsu, yang juga hadir dalam konferensi tersebut.

Sementara itu Pemuka Agama Kristen Koptik Dr. Shabbuna Markus menanggapi, bahwa kesempurnaan jiwa pemuda dapat diasah dengan menghindari perilaku yang dilarang agama.

Hal ini dikuatkan lagi oleh mantan Wakil Menteri Wakaf Mesir Syeikh Mansour Rifa’i Abid bahwa tantangan bagi para pemuda saat ini adalah bagaimana mengupayakan untuk kembali menerapkan nilai-nilai yang dikumandangkan Musa, Isa dan Muhammad SAW.

"Sehingga problem masyarakat seperti pelecehan seksual, kekerasan, dan kurangnya budaya positif dapat diminimalisir," terang Mansour.

Delegasi pemuda RI terdiri dari 15 orang, diketuai Muhammad Syadid, Wakil Presiden Persatuan Pelajar dan Mahasiswa (PPMI) Mesir.

“Konferensi ini adalah upaya penyadaran kepada para generasi muda bahwa moralitas adalah satu-satunya unsur pembangun kembali semangat kebangsaan. Penguasaan ilmu dan teknologi harus diimbangi dengan moral terpuji,” katanya.

Selain itu Nur Ishma, Ketua WIHDAH-PPMI menegaskan bahwa maju mundurnya peradaban Arab dan dunia terletak di tangan pemuda.

selengkapnya...

Inkonsistensi

Ketika tuhan berkehendak menciptakan manusia, maka segala yang kemudian menjadi penunjang bagi terciptanya hidup dan kehidupan manusia telah Allah cukupi, alam dunia beserta semua isinya

Sebagai mahluk paling sempurna, manusia juga diberi mandat oleh Allah untuk menjadi kholifah yang bertugas mengatur dan menjaga alam dunia sebagai tempat hidup dan kehidupan manusia, baik dan buruknya hidup dan kehidupan ini adalah menjadi tangung jawab kita sebagai kholifah.

perubahan dan kerusakan iklim dan ekosistem yang terjadi hari ini adalah
murni karena kita semua, apa yang Allah ciptakan adalah untuk manusia adalah sebuah sirkulasi simbiosis mutualisme, agar hidup bisa berjalan baik, dan alampun bisa terjaga dengan baik, keserakahan manusia dengan segala keangkuhan dan kesombongannya karena merasa pintar dan memiliki ilmu pengetahuan dan technologi telah menjadi salah kaprah dan salah guna.

apa yang terjadi hari ini, kerusakan alam, bencana dan lain - lain adalah merupakan hasil dari inkonsistensi mandat Allah kepada manusia.


selengkapnya...